Di tengah budaya kerja yang memuja produktivitas dan penundaan hidup, Die With Zero mengajak kita berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan yang jarang ditanyakan: apakah kita sedang membangun kehidupan, atau sekadar menyiapkan masa depan yang belum tentu sempat dijalani? Melalui refleksi atas buku karya Bill Perkins, presentasi ini menantang paradigma klasik tentang menabung, kerja keras, dan kesuksesan—seraya menunjukkan bagaimana terlalu fokus pada akumulasi justru dapat membuat hidup miskin pengalaman dan makna.
Lebih jauh, PPT ini mengaitkan filosofi Die With Zero dengan isu burnout dan ilusi work–life balance yang banyak dialami para profesional, khususnya di sektor kesehatan dan pelayanan publik. Burnout dipahami bukan semata akibat beban kerja, tetapi sebagai konsekuensi dari hidup yang terus ditunda. Dengan menyoroti konsep investasi pengalaman, memory dividend, dan integrasi hidup–kerja yang sadar fase kehidupan, materi ini mengajak audiens merefleksikan ulang cara bekerja, beristirahat, dan—yang paling penting—cara menjalani hidup sebelum waktu dan energi benar-benar habis.
Buku ini menyajikan perspektif yang cukup mind blowing sehingga saya rangkum dalam PPT ini. Bagi yang ingin berdiskusi silakan berpendapat di kolom komentar. Happy reading ...
